Looking For Anything Specific?

Kurikulum di dalam Alkitab

Kurikulum Dalam Alkitab dan Alkitab dalam Kurikulum
Pendidikan Agama Kristen
Oleh: Yonas Muanley, M.Th.

Pendahuluan

Para pembaca mungkin kaget atau mengajukan keberatan dengan sebutan penulis tentang topic: Kurikulum dalam Alkitab/“konsep-konsep dasar Alkitabiah tentang kurikulum”. Pertanyaan yang muncul yakni, apakah Alkitab mengenal kata kurikulum? Atau apakah di dalam Alkitab ada kata kurikulum? Jawabannya jelas, kata kurikulum tidak ada dalam Alkitab, sama halnya kata Trinitas. Lalu apa yang ada dalam Alkitab sehubungan dengan kata kurikulum sehingga mau dibicarakan secara Alkitabiah?. Jawaban atas pertanyaan itu sengaja penulis biarkan tidak terjawab disini, tetapi dapat terjawab setelah penulis membahas makna kata “kurikulum” dalam pendekatan etimologi maupun pengertian yang berkembang dari kata “kurikulum” dalam teori kurikulum pendidikan.

Berikut ini penelitian pustaka tentang kata “kurikulum” lebih banyak diambil dari literatur yang dikelola oleh para penulis dari komunitas religious non Kristen. Hal ini perlu penulis tegaskan disini karena ada sebagian orang Kristen yang masih alergi membaca tulisan dari saudara-saudara kita yang beragama lain. Kita tidak perlu alergi dengan memakai buku yang ditulis oleh orang non Kristen karena apa yang dikemukan mereka, seperti pengetahuan tentang kurikulum lebih banyak diambil dari pemikiran-pemikiran orang eropa yang nota bene Kristen. Hal itu muncul dalam daftar pustaka yang dipergunakan oleh para penulis buku kurikulum. Jadi, sekali lagi jangan alergi terhadap buku yang dikarang oleh saudara-saudara kita yang beragama non Kristen.

Selain itu, di Indonesia kita mengalami kesulitan buku-buku kurikulum yang ditulis oleh orang Kristen atau oleh orang-orang yang terlatih dalam sekolah Teologi untuk menulis buku kurikulum Pendidikan Agama Kristen. Kalaupun ada, semuanya dalam literature Inggris dan lebih banyak dari kalangan Gereja Baptis, seperti buku kurikulum yang ditulis oleh Howard P. Colson dan Raymond M. Rigdon.
Dengan konsep pemahaman seperti disebutkan di atas, maka penulis melacak kata “kurikulum” dalam berbagai literature dalam paparan berikut ini, yang didahului dengan usaha mencari asal usul kata kurikulum.

Bab 1.
Konsep kurikulum secara Alkitabiah

Perjanjian Lama

Sebelum saya membahas konsep kurikulum secara Alkitabiah, maka baiklah saya mulai dengan “perkataan sang pembuat kurikulum” yang mengkurikulumkan kurikulumnya dalam kekuatan sabda-Nya kepada penulis Kitab Kejadian dengan perkaataan sbb:

Pada mulanya Allah menciptkan langit dan bumi. (Kej. 1:1)
Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita. Supaya mereka berkuasa atas …seluruh bumi … (Kej. 1:26)
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya … (Kej. 1:27)

Berdasarkan firman Tuhan di atas, tidak ada kata kurikulum secara gamblang, namun kita dapat yakini bahwa kurikulum itu sudah ada pada diri Allah sendiri dengan penegasan kata “menciptakan” (baca : perencanaan Allah sejak kekal dalam menciptakan langit, bumu dan isinya), kemudian kemampuan merencanakan itu diberikan Allah dalam diri manusia, penegasan ini dapat dipahami dalam kata penciptaan manusia yang “segambar dan serupa” dengan Allah. Kata “segambar dan serupa” hanya muncul dalam konteks penciptaan manusia, dan tidak untuk mahluk yang lain termasuk kera yang menurut teori Charles Darwin, manusia berevolusi dari kera.

Berdasarkan kemampuan (peta dan gambar Allah) yang ada pada manusia, maka manusia memiliki kemampuan perencanaan atas berbagai hal yang berhubungan dengan kehidupan manusia.
Kemampuan perencanaan itu dapat dilihat dalam Kejadian 2:24 “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”. Teks ini memang bicara tentang manusia pertama, dan belum ada anak-anak dari manusia pertama, tetapi nanti dalam narasi selanjutnya akan terjadi bahwa seorang anak laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk menyatu dengan isterinya. Dalam narasi ini hendak saya tegaskan bahwa perencanaan menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Kembali kepada inti percakapan tulisan ini, yakni konsep kurikulum Alkitabiah. Memulai dengan ayat yang telah dikutip dan nanti dalam pembahasan selanjutnya aka nada refrensi dari Alkitab, tetapi yang hendak saya tegaskan di sini yakni kurikulum dalam pengertian perencanaan tidaklah asing dalam kesaksian seluruh bagian Alkitab, mulai dari Kejadian sampai Wahyu. Ada perencanaan Allah dalam hal penciptaan, pemilihan bangsa Israel dan penebusan manusia berdosa. Semuanya sudah ada dalam perencanaan Allah sejak kekekalan.

Jadi perencanaan itu dimulai dalam diri Allah dan kemampuan merencanakan itu diberikan kepada manusia, sehingga dengan kemampuan tersebut manusia dapat merencanakan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupannya, seperti perencanaan untuk mendidik Anak, dan seterusnya.
Perencanaan untuk mendidik anak telah dilakukan Adam dan Hawa, oleh anak-anaknya sampai pada pemilihan Israel sebagai bangsa, perencanaan pendidikan telah menjadi bagian yang sangat penting dalam pendidikan bangsa Israel dengan penekanan syema yang terkenal: Tuhan itu Esa.

Perencanaan pendidikan sebagaimana yang disinggung di atas tidak hanya dilakukan oleh bangsa Israel tetapi juga oleh bangsa-bangsa di sekitar Israel pada waktu itu, walaupun isi pendidikan itu tidak sama. Salah satu bangsa di sekitar Israel yang terkenal dalam pendidikan adalah bangsa Yunani dan Bangsa Romawi. Kemudian dalam sejarah perkembangan pendidikan, para pendidik modern memilih kata kurikulum yang berasal dari bahasa Latin dari kata currere. Berdasarkan itu maka uraian selanjutnya akan memaparkan etimologi kata kurikulum. Namun haruslah saya tegaskan disini bahwa sebelum muncul penggunaan kata currere dengan berbagai pengertiannya sebenarnya jauh sebelumnya sudah ada dalam Alkitab esensi dari kata kurikulum sebagaimana yang akan muncul dalam studi etimologi kata berikut ini ditambah dengan beberapa pendapat Ahli PAK terhadap kurikulum.

1. Etimologi Kata Kurikulum

Definisi Kamus Bahasa Latin

Dalam kamus Latin Indonesia yang disusun oleh K. Prent C.M., J. Adisubrata, dan J.S.Poerwadarminta menyatakan beberapa arti tentang kata Kurikulum. Kata kurikulum (Indonesia) berasal dari kata Latin Curriculum (Curro) yang memiliki arti: (1) Jalan, larinya dll. (2) perlombaan, pacuan, balap, peredaran, gerakan berkeliling, lamanya, Lapangan perlombaan, gelanggang, jalan. (3) kereta, kereta balap, kereta penempur.

Definisi Kamus Webster

a. Kamus Webster terbitan tahun 1812 belum terdapat kata kurikulum
b. Kamus Webster terbitan tahun 1856 mulai mencantumkan kata kurikulum. Kata kurikulum diartikan: (1). A race cource; a place for running; a chariot. Artinya kurikulum adalah suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari atau kereta dalam perlombaan, dari awal sampai akhir. Kurikulum juga diartikan a chariot artinya “semacam kereta pacu pada zaman dulu, yakni suatu alat yang membawa seorang dari start sampai finish” ( 2). A course in general; applied particulary to the course of study in a university”. Di samping penggunaan “kurikulum” semula dalam bidang olahraga, kemudian dipakai dalam bidang pendidikan, yakni sejumlah mata pelajaran di perguruan tinggi”

c. Terbitan tahun 1955, kata kurikulum diartikan: (1) A course esp. a specified fixed course of study, as in a school or college, as one leading to degree. (2) The whole body of courses offered in an educational institution, or department there of,-the usual sense.
Menurut dua pengertian ini, jelas bahwa kata “kurikulum” khusus digunakan dalam pendidikan dan pengajaran, yakni sejumlah mata pelajaran di sekolah atau mata kuliah di perguruan tinggi, yang harus ditempuh untuk mencapai suatu ijazah atau tingkat. Kurikulum juga berarti keseluruhan pelajaran yang disajikan oleh suatu lembaga pendidikan.


Definisi menurut Ahli PAK

Dr. E.G.Homighausen dan Dr. I.H.Enklaar (Ahli PAK)

Kedua ahli di atas menyatakan: “Apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan istilah “rencana pelajaran” itu? Dalam bahasa asing dipakai kata ‘Curriculum’, arti aslinya ialah lapangan perlombaan. Kita tahu bahwa perlombaan dimulai dari satu tempat yang tertentu dan berakhir pula pada tempat yang tertentu”. Homrighausen dan Enklaar menyamakan rencana pelajaran dengan curriculum (rencana pelajaran atau curriculum). Bahkan dalam kursus mengemudikan oto (mobil), pasti ada rencana atau curriculumnya. Begitu pulalah semestinya dalam Pendidikan Agama Kristen.

Secara tegas kedua ahli ini mengemukakan bahwa rencana pelajaran atau Curriculum dapat dipahami dalam arti sempit (mata pelajaran) dan curriculum dalam arti luas, yaitu segala pengaruh, persekutuan dan aktivitas yang lain, yang berhubungan dengan pelajaran bersama itu (Homrighausen dan Enklaar, 2005:87-88)

Hal menarik dalam pernyataan Homrighausen dan Enklaar adalah: Isi seluruh Alkitab harus diajarkan menurut rencana atau curriculum yang dipertanggungjawabkan atau bagian ini dipahami dalam istilah Howard P. Colson dan Raymond M. Rigdon , yaitu Alkitab dalam kurikulum (kurikulum/perencanaan dalam Pendidikan Agama Kristen (Homrighausen dan Enklaar, 2005 : 87). Selanjutnya menurut penulis (Yonas Muanley) rencana pendidikan atau curriculum pendidikan itu ada dalam Alkitab (Kurikulum dalam Alkitab). Hipotesis ini lahir dari berpikir dan perenungan panjang melalui riset terhadap makna kata curriculum. Dengan demikian saya tiba pada hipotesa “Kurikulum dalam Alkitab”, dan ternyata kebenaran konsep ini ada dalam pandangan seperti Homrighausen dan Enklaar, yaitu Isi Alkitab harus diajarkan menurut rencana atau curriculum yang dapat dipertanggungjawabkan. Inti yang searah dengan konsep Kurikulum dalam Alkitab adalah penegasan kedua ahli di atas tentang perencanaan atau curriculum yang harus diterapkan dalam Pendidikan Agama Kristen. Sedangkan Colson dan Rigdon akan membawa penulis (Yonas Muanley) pada konsep esensi rencana atau curriculum dalam Alkitab, yaitu bahwa perencanaan itu ada dalam Alkitab karena Alkitab itu berotoritas. Otoritas Alkitab disebabkan karena pengilhaman atau pewahyuan oleh Allah yang berpribadi kepada manusia yang berpribadi sehingga selalu bersinggungan dengan perencanaan. Allah itu berpribadi maka Ia memiliki perencanaan, Ia menciptakan manuisa sebagai mahluk yang segambar maka mahluk yang segambar dan serupa dengan Allah itu mempunyai perencanaan dalam berbagai kehidupan, khususnya perencanaan dalam pendidikan. Tentang pendidikan, Alkitab memuat data yang cukup untuk sebuah studi kurikulum pendidikan (perencanaan pendidikan).

Dr. Eli Tanya

Kata kurikulum aslinya berarti lapangan perlombaan yang harus dilalui oleh murid dan guru mencapai tujuan tertentu. Lazimnya kurikulum dipahami orang sebagai bahan-bahan tercetak (buku, majalah) berisikan pelajaran, petunjuk-petunjuk, gambar-gambar, soal-soal, dsb. Tetapi kurikulum sebenarnya mempunyai arti yang luas, yaitu sepanjang hidup pelajar, meringkas segala pengalaman dan pengaruh-pengaruh yang terdapat di sekeliling murid. International Council of Religious Education mendefinisikan kurikulum sbb: Kurikulum PAK adalah segala pengalaman si pelajar di bawah bimbingan”. Semua pengalaman murid dalam rumah tangga, gereja dan sekolah digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan gereja.

Macam-macam Kurikulum PAK

1. Uniform Lesson (pelajaran seragam): Bahan pelajaran yang sama ditujukan untuk semua golongan umur.
2. Group-graded Lesson (pelajaran yang disesuaikan dengan kelompok): Bahan pelajaran yang berbeda ditujukan untuk kelompok umur yang berlainan.
3. Closely Graded Lesson (Pelajaran yang disesuaikan secara ketat): Bahan pelajaran khusus untuk beberapa waktu saja, misalnya 1 tahun saja.
4. Pelajaran PAK di luar Gereja: lazimnya berupa buku pegangan baik untuk guru maupun murid.
5. Buku pelajaran untuk sekolah: ditujukan untuk pelajar-pelajar tingkat SD, SMP, SMA, yang diterbitkan oleh Kompak PGI
6. Kurikulum Denominasi: kurikulum yang disusun dan diterbitkan oleh denominasi tertentu untuk kalangan sendiri.
7. Kurikulum Non Denominasi: Kurikulum yang diterbitkan bukan denominasi tetapi untuk komersial
8. Kurikulum usaha bersama: kurikulum yang dihasilkan secara bersama oleh beberapa denominasi secara bersama-sama.
9. Kurikulum yang berpusatkan isi (Content-Centered Curriculum): Kurikulum yang berpusatkan pada pelajaran Alkitab, membahas bagian-bagian Alkitab satu persatu.
10. Kurikulum yang berpusatkan pengalaman (Experience-Centered Curriculum): Kurikulum yang isinya menitik beratkan pengalaman murid, lalu menghubungkannya dengan Alkitab atau iman Kristen
11. Kurikulum berdasarkan studi unit (Unit of Study): Kurikulum yang tujuannya adalah member pelajaran yang lebih luas, baik pengalaman atau pokok pelajaran.
Isi Kurikulum PAK
Rumusan tentang isi Kurikulum PAK bergantung dari bagaimana rumusan tentang tujuan PAK. Dengan kata lain isi kurikulum PAK menyangkut dengan apakah tujuan PAK.
Beberapa rumusan tentang tujuan PAK
1. Randolph Crump Miller
Tujuan PAK adalah membimbing setiap pribadi kedalam keputusan untuk hidup orang Kristen

2. Robert R. Boehlke
Tujuan PAK adalah menolong orang dari semua golongan umur yang dipercayakan kepada pemeliharaan gereja untuk memberi tanggapan akan pernyataan Allah dalam Yesus Kristus … supaya mereka dibawah pimpinan Roh Kudus diperlengkapi guna melayani sesama manusia atas nama Tuhan mereka di tengah-tengah keluarga, gereja, masyarakat dan dunia alam…

3. Joseph Lewis Sherrill
Tujuan PAK adalah usaha, biasanya oleh anggota-anggota umat Kristen, untuk berpartisipasi dalam dan untuk membimbing perubahan-perubahan yang terjadi dalam pribadi-pribadi dala, hubungan-hubungan mereka dengan Allah, dengan gereja, dengan orang-orang lain, dengan dunia dan diri sendiri.

4. International Council of Religious Education dalam Paul H. Vieth th. 1930 yang dikutip Eli Tanya, merumuskan tujuan PAK sbb:

4.1. Meningkatkan dalam diri pribadi yang bertumbuh kesadaran akan Allah sebagai realitas dalam pengalaman manusia dan rasa adanya hubungan pribadi dengan Dia.
4.2. Membimbing pribadi yang bertumbuh kepada pengertian dan penghargaan akan kepribadian, kehidupan, dan pengajaran Yesus Kristus.
4.3. Meningkatkan dalam pribadi yang bertumbuh perkembangan progresif dan terus-menerus dari watak Kristus
4.4. Mengembangkan dalam pribadi yang bertumbuh kemampuan dan kecendrungan untuk berpartisipasi dalam dan menyumbang secara konstruktif kepada pembangunan tata social.
4.5. Membimbing pribadi yang bertumbuh untuk membangun falsafah hidup berdasarkan tafsiran Kristen tentang kehidupan dan alam semesta.
4.6. Mengembangkan dalam pribadi yang bertumbuh kemampuan dan kecendrungan untuk berpartisipasi … dalam gereja
4.7. Memungkinkan dalam pribadi yang bertumbuh mengasimilasikan pengalaman religious yang terbaik dari bangsa sebagai bimbingan efektif bagi pengalaman kini.

Berdasarkan tujuan-tujuan tersebut di atas maka isi PAK dirumuskan sbb:
1. Iman Kristen: Meliputi hakekat Allah, Roh Kudus, Yesus Kristus, Manusia, Gereja, Alkitab dan pengetahuan tentang filsafat-filsafat dunia, juga tafsiran Kristen tentang alam semesta.
2. Alkitab sebagai Firman Allah: Umat Kristiani harus mengerti tentang hakekat Alkitab itu yang meliputi sejarah terjadinya, cara pemakaiannya pada berbagai kesempatan, metode-metode studi PL dan PB, dan bagaimana mengajarkannya.
3. Kehidupan Kristen: Meliputi ibadah, pergaulan, pekerjaan, menjadi orang tua bertanggung jawab, tafsiran tentang seks secara Kristen, pernikahan Kristen, hubungan dengan masyarakat, dsb.
4. Masalah Sosial: Meliputi asas-asas Kristen dalam hubungannya dengan kehidupan masyarakat, ekonomi dan perdagangan, pemerintah, kewarganegaraan, kerja dstnya.
5. Hubungan dunia: Meliputi misi ke seluruh dunia, gerakan oikumene, kesempatan-kesempatan dalam hubungan dengan dunia luas.
Atau isi PAK adalah Allkitab ( Allah, Kristus, Roh Kudus, Manusia, Masyarakat)
Ciri-ciri yang baik dari factor-faktor pembuatan kurikulum PAK:
1. Isi kurikulum harus sesuai dengan Alkitab, meskipun tidak semua bahan terambil dari Alkitab, tetapi selalu harus Alkitabiah
2. Kurikulum harus sesuai dengan ajaran dan pengakuan gereja yang menggunakannya.
3. Kurikulum harus memanfaatkan ilmu paedagogi-termasuk di dalamnya metode atau tehnik dan proses belajar mengajar yang baik.
4. Kurikulum juga harus memperhatikan petunjuk-petunjuk psikologi belajar yang tentang cirri-ciri golongan umur pelajar, kepribadian pelajar, dsbnya.
5. Kurikulum juga harus memperhatikan penemuan-penemuan sosiologi tentang latar belakang masyarakat tertentu, kemampuan golongan-golongan, jemaat kaum tani dll.
6. Kurikulum harus dapat disesuaikan kebutuhan gereja tertentu (harus luwes sifatnya).
7. Kurikulum harus sesuai kebutuhan pengajaran yang diberikan, misalnya untuk sekolah Minggu atau kelas katekisasi.
8. Harga terbitan (buku, majalah, manual) harus pantas dan terjangkau, sehingga dapat dibeli oleh jemaat local atau murid (Eli Tanya, 2006:28-32)
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kurikulum PAK adalah:
1. Apa tujuan kurikulum PAK?
2. Untuk siapa kurikulum itu dibuat?
3. Apakah kurikulum dibuat untuk murid-murid? Atau untuk sekolah, gereja atau untuk pembuatnya sendiri?








Sejarah Penggunaan Kata Kurikulum dalam dunia Pendidikan di Indonesia

Menurut S. Nasution, istilah “kurikulum” dipopulerkan sejak tahun 1950-an oleh mereka yang memperoleh pendidikan di Amerika Serikat. (Nasution, 1989 : 2)

Berdasarkan uraian di atas, maka menjadi jelas bahwa kurikulum tidak lain perencanaan, peraturan-peraturan dan peristiwa-peristiwa yang terjadi demi mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.

Jika kurikulum diartikan perencanaan atau kegiatan yang direncanakan maka di dalam Alkitab kita mendapat kesaksian yang jelas tentang perencanaan-perencanaan yang dimulai dari Allah sendiri. Perencanaan itu berupa perencanaan penciptaan atau kurikulum penciptaan dst. Akan dibahas terperinci dalam topic kurikulum dalam Alkitab.

2. Konsep “Kurikulum dalam Alkitab” (Kurikulum Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab)

Kurikulum dalam Alkitab dalam bahasan ini dipahami dalam dua pendekatan:

1. Kurikulum dalam Alkitab adalah perencanaan Allah sejak kekal untuk mencapai tujuan yang telah Ia tetapkan sejak kekekalan sesuai dengan kesaksian Alkitab (Kurikulum dalam Alkitab adalah Perencanaan Allah: Penciptaan dan keselamatan). Di sini Allah adalah pendidik utama dan pertama. Ia mendidik dua manusia sejak di taman Eden dan dalam sejarah perkembangan manusia.

2. Kurikulum dalam Alkitab adalah perencanaan manusia pilihan Tuhan dalam bentuk perencanaan pendidikan yang telah dilakukan oleh manusia sejak Adam dan Hawa sampai pada perencanaan pendidikan yang dilakukan dalam bangsa Israel (Kurikulum Pendidikan dalam PL)dan Gereja sepanjang zaman.(Kurikulum Pendidikan dalam PB).

Deskripsi selanjutnya berkait dengan uraian dari kedua poin di atas.

Perencanaan Allah/kurikulum Allah:

Kurikulum/perencanaan Penciptaan (Kejadian pasal 1 dan 2)
Isi kurikulum itu : 6 hari penciptaan dan 1 hari istirahat
Kurikulum Keselamatan (Kejadian 3:15 dan ayat-ayat dalam Alkitab yang berkorelasi dengan keselamatan, baik berupa nubuat maupun penggenapan)
Kurikulum Predestinasi (bagi penganut Teologi Calvinis)
Isi Kurikulum Predestinasi adalah Orang yang dipilih dan ditolak
Kurikulum Anugerah Allah
Isi kurikulum : Manusia mengalami Kerusakan Total membutuhkan pertolongan Tuhan
Kurikulum Bangsa Pilihan Allah (Israel)
Isinya: Pemanggilan Abraham sampai terpilihnya Israel menjadi suatu bangsa pilihan

Kurikulum Inkarnasi (Perwujudan keselamatan)
Isinya: Karya Yesus Kristus)
Dst.

Kurikulum pendidikan dalam Alkitab (PL), yaitu:
Kurikulum Taman Eden
Pendidiknya adalah Tuhan sendiri, peserta didiknya adalah Adam dan Hawa
Isi kurikulum: Boleh dan jangan makan pohon dalam taman Eden
Dalam prosesnya Adam dan Hawa gagal (berdosa) kemudian diusir keluar dari Taman Eden.
Kurikulum di luar Taman Eden
Kurikulum di luar taman Eden berlangsung dalam dua komunitas pelaksana kurikulum pendidikan.
Yaitu:
1. Kurikulum Kain yang diteruskan dalam bangsa-bangsa yang tidak percaya Allah/kafir. Artinya bangsa-bangsa kafir di sekitar dunia Perjanjian Lama dan bangsa-bangsa kafir lainnya juga melaksanakan kurikulum pendidikan.
2. Kurikulum Zet yang diteruskan dalam bangsa Israel – Gereja (Pendidikan Agama Kristen sepanjang Zaman)
Kurikulum Nuh (Lihas Alkitab dan mendiskusikannya)
Kurikulum Abraham (Ibid)
Kurikulum Ishak
Kurikulum Yakub
Kurikulum Yusuf
Kurikulum Musa
Kurikulum Yosua
Kurikulum Raja Daud
Kurikulum Raja Solaiman

Dapat juga kurikulum dalam Perjanjian Lama di bahas kitab perkitab. Misalnya kurikulum Pendidikan menurut Kitab Kejadian, Kurikulum Pendidikan menurut Kitab Keluaran dst. Sampai pada kitab yang terakhir dalam Perjanjian Lama.
Pembahasan kurikulum perkitab dalam PL akan lebih menarik bila dibahas dalam format komponen-komponen kurikulum (tujuan; materi; proses pembelajaran; evaluasi).
Pembahasan tersebut, untuk sementara tidak dapat diwujudkan disini, pada kesempatan berikut mudah-mudahan dapat diwujudkan.

Jadi, kurikulum dalam Alkitab hanya dapat dipahami dalam pengertian bahwa secara makna kata maka pengertian kurikulum itu sebenarnya ada dalam Alkitab, mulai dari Kejadian sampai Wahyu. Disini kata kurikulum tidak dipahami dalam pengertian bahwa kata kurikulum ada dalam Alkitab melainkan maknanya. Kurikulum dalam Alkitab juga tidak dimaksudkan bahwa dalam Alkitab telah dirumuskan sejumlah mata pelajaran atau mata kuliah. Namun komponen-komponen kurikulum pada setiap mata pelajaran itu ada dalam Alkitab.

Kurikulum Pendidikan Agama Yahudi

Berdasarkan informasi dari Robert R. Boehlke dalam buku Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen dari Plato sampai Iqnatius de Loyola. Dapat dibuat sebuah kurikulum dengan format komponen kurikulum sbb:


Tujuan :
Melibatkan angkatan muda dan dewasa dalam sejumlah pengalaman belajar yang menolong mereka mengingat perbuatan-perbuatan ajaib yang dilaksanakan Allah pada masa lampau, serta membimbing mereka mengharapkan terjadinya perbuatan sama dengan penyataan di tengah-tengah kehidupan mereka guna memenuhi syarat-syarat perjanjian, baik yang berkaitan dengan kebaktian keluarga dan seluruh persekutuan maupun yang mencakup perilaku yang sesuai dengan kehendak Tuhan, sebagaimana Ia diejawantahkan dalam urusan sosial dan pemeliharaan ciptaan yang dinamakan baik oleh Tuhan (Boehlke, 1994:23-24)
Bahan Pelajaran :

Materi pelajaran yang dipilih untuk diajarkan kepada peserta didik (umat Israel) untuk mencapai tujuan seperti yang dirumuskan diatas, yaitu:
Penciptaan langit dan bumi
Pemilihan Abraham dengan keturunannya
Pembebasan dari perbudakan di Mesir
Pemberian perjanjian/hukum Taurat
Pendudukan tanah yang dijanjikan
Permulaan kerajaan dan kesaksian kaum nabi tentang kecendrungan umat Israel menyeleweng dari persyaratan yang termuat dalam perjanjian
(sumber: Boehlke, dari Plato-Iqnatius, 1994:34)

Proses belajar- mengajar :

Proses belajar mengajar menyangkut strategi dan metode dan media yang dipakai dalam mendidik peserta didik (umat Israel) adalah:
Metode penuturan
Menghafal
Menyanyikan bahan yang dipelajarinya

Perdebatan (Tanya jawab) ; ancaman hukuman dan hukuman

Evaluasi/penilaian :

Selalu ada evaluasi atau penilaian atas kegiatan pendidikan yang dilakukan dalam umat Israel. Hal ini Nampak dalam keseriusan pendidik Israel mendidik peserta didik yaitu penggunaan ancaman hukuman dan hukuman yang dipakai oleh pendidik Israel untuk meningkatkan perhatian murid-murid. Sebab tanpa perhatian maka peserta didik tidak akan memahami pelajaran yang dijelaskan (Boehlke, 1994:47)

Kurikulum Gereja Perjanjian Baru
Kurikulum Gereja Perjanjian Baru maksudnya komunitas pengikut Yesus yang disaksikan dalam Perjanjian Baru berpusat pada satu Guru Agung yaitu Yesus Kristus (Menurut laporan Injil Sinoptik dan Inil Yohanes). Perjanjian Baru sangat kaya dengan kurikulum pendidikan, termasuk kurikulum berbasis kompetensi. Artinya sebelum Badan duniayang menangani Pendidikan, yaitu UNESCO memprogramkan pendidikan yang berorienatasi pada kemampuan Kogintif, Afektif dan Psikomotorik, Tuhan Yesus sudah melakukan itu kepada murid-murid-Nya.
Selain itu dalam Kisah Para Rasul dan Surat-surat Paulus, Paulus dapat ditempatkan sebagai Guru Agung kedua setelah Tuhan Yesus. Kurikulum Paulus (isi pengajaran Paulus) berfokus kepada Yesus Kristus. Rasul Paulus adalah salah satu pendidik yang kurikulum pendidikannya mengarahkan pada kompetensi logia atau kompetensi kognitif. Para pendengar yang tidak lazim dalam kompetensi logi/kognitif akan cepat bosan bahkan mengantuk.
Ada dua kurikulum pendidikan yang teragung dalam Perjanjian Baru, yaitu
a. Kurikulum Pendidikan Yesus Kristus (Guru Agung Utama dan Pertama)
Menurut Injil Matius
Menurut Injil Markus
Menurut Injil Lukas
Menurut Injil Yohanes
b. Kurikulum Pendidikan Rasul Paulus (Guru Agung kedua setelah Yesus Kristus)
Menurut Kisah Para Rasul
Menurut surat-surat Kiriman Paulus

3. Alkitab dalam Kurikulum : Istilah Colson dan Rigdon

Dalam buku Howard P.Colson dan Raymond M. Rigdon, dikemukan alasan-alasan mengapa Alkitab perlu mendapat tempat utama dalam kurikulum Pendidikan Agama Kristen. Selanjutnya untuk alasan-alasan yang dikemukakan oleh Colson dan Rigdon dapat dipelajari dalam hal. 104-114
Sedangkan praktik Alkitab dalam Kurikulum dapat ditelusuri dalam buku Robert R. Boehlke dengan judul: Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen yang dapat diringkas dalam babakan berikut ini.
Kurikulum Pendidikan Gereja Zaman Bapa-bapa Gereja – tahun 590 (Kurikulum Gereja mula-mula)
Kurikulum Pendidikan Gereja Abad Pertengahan
Kurikulum Pendidikan Gereja Zaman Reformasi
Kurikulum Pendidikan Gereja Zaman Modern
Kurikulum Pendidikan Gereja zaman gerakan Evangelical
Kurikulum Gereja(PAK) di Indonesia tingkat SD, SMP, SMA, PT/STT
Kurikulum PAK dengan pendekatan KBK sejak 2003, isinya lebih kepada pendekatan dogmatika yaitu dalam Kurikulum PAK tingkat SD-SMA dan Perguruan Tinggi isinya adalah doktrin Tritunggal dan nilai-nilai Kristiani (Isi kurikulum PAK dengan pendekatan dogmatika tentang Tritunggal dan pendekatan etis yaitu nilai-nilai Kristiani)
Belum ada pendekatan kurikulum PAK berdasarkan kitab perkitab, padahal aspek ini penting (pendekatan Biblika)
Komponen kurikulum

Tujuan : Dirumuskan berdasarkan pendekatan terhadap Alkitab, Apakah pendekatan biblika, Dogmatika, Etika, dan pendekatan-pendekatan lain yang diakui dalam penelitian teks Alkitab
Bahan pelajaran : Dipilih berdasarkan tujuan yang hendak dicapai.
(Bersumber dari Alkitab)
Proses belajar-mengajar : pemilihan Strategi, metode, media dll dalam proses
pembelajaran. Contoh Yesus Kristus
Penilaian : Pemberian nilai dan evaluasi proses pembelajaran

2 Contoh tentang 4 Komponen kurikulum dalam PL yaitu dari Kitab Kejadian pasal 1, pasal 2-3 .
a. Tujuan : Penciptaan Langit dan Bumi
b. Bahan pelajaran : Enam hari penciptaan dan 1 hari sabat
c. Proses Belajar Mengajar : Logos Tuhan dan Exnihilo
d. Penilaian : Tuhan menilai pada Kej. 1: 10, 21 dengan kata Baik.
Sedangkan pada ayat 30 Tuhan menilai Sungguh amat Baik
Kejadian 3
a. Tujuan : Mengusahakan dan memelihara Taman Eden
b. Bahan Pelajaran : Buah-buah yang dapat dimakan dan yang dilarang oleh Tuhan
c. Proses Belajar Mengajar : Ceramah/dialog antara Tuhan dan Manusia Pertama
d. Penilaian : Sudah tahu tentang baik dan jahat oleh karena itu diusir keluar dari Taman Eden (Kej. 3:22) = Adam dan Hawa Tidak Lulus dan di DO dari Kampus Eden

1 Contoh dari 4 komponen kurikulum dalam PB, yaitu dari Injil Lukas
a. Tujuan
b. Bahan Belajar-Mengajar
c. Proses Belajar Mengajar
d. Penilaian
Kurikulum Pendidikan Yesus menurut Injil Matius
a. Tujuan Panggilan : Menjadi Penjala Manusia (Markus, 1:17) Maksud panggilan Yesus
b. Bahan Pelajaran : Yesus mengusir roh jahat (Mark. 1:24-25), berdoa
(Mark. 1:29-34), Yesus Berjalan diatas air (Mark.6:45-52dst
c. Proses belajar mengajar : Ceramah Yesus, simulasi/pengalaman langsung mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit , orang lumpuh dll
d. Penilaian : Petrus tidak Lulus (Mark. 14:66-72) tetapi bukan tidak lulus permanen karena nanti setelah Roh Kudus turun Petrus lulus dengan sangat memuaskan (peristiwa pentakosta = hasil khotbah Petrus)
Yudas tidak lulus permanen akibatnya bunuh diri


4. Hakikat Kurikulum PAK

Dalam kalangan ahli PAK pun terdapat beragam definisi tentang kurikulum. Mulai dari pengertian sederhana (Mata pelajaran Agama Kristen yang tercetak) sampai pada pengertian kurikulum yang bersifat kompleks dan maha luas. Walaupun demikian namun esensinya sama yaitu perencanaan pendidikan agama Kristen atau kurikulum pendidikan agama Kristen adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan agama Kristen. Dalam mencapai tujuan itu maka perencanaan atau kurikulum pendidikan itu berisi isi, bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman kegiatan belajar-mengajar.

5. Ragam atau mono Definisi Kurikulum PAK

Bila kita membaca buku Robert Boehlke maka akan Nampak bahwa Boehlke memakai kata kurikulum dalam pengertian lama yaitu mata pelajaran. Namun itu tidak serta menegaskan bahwa Boehlke tidak mempunyai pandangan yang maha luas tentang pengertian kurikulum. Kita yakin bahwa Boehlke pasti lebih luas memahami definisi kurikulum mulai dari arti sederhana sampai arti yang kompleks dan luas. Penegasan ini disebabkan karena beliau adalah pakar PAK dari Amerika, pendidik Amerika tidak asing dengan kata kurikulum, karena kata kurikulum yang kita pakai di Indonesia, dipopulerkan di Indonesia pada tahun 1950-an oleh ahli-ahli pendidikan tamatan dari Amerika, demikian informasi dari S.Nasution dalam bukunya Asas-asas Kurikulum.
Ragam definisi tentang kurikulum juga dapat dipahami dalam uraian PAK oleh Homrighausen dan Enklaar. Mereka mengakui definisi kurikulum mulai dari arti sempit sampai arti yang luas.
Kesimpulannya Para Ahli PAK juga memiliki pengertian yang sederhana dan maha luas tentang pengertian kurikulum. Dan untuk aspek praktis maka sering para Pakar PAK mengartikan kurikulum dalam pengertian mata pelajaran yang disajikan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Dr. E.G.Homighausen dan Dr. I.H.Enklaar (Ahli PAK)
Kedua ahli di atas menyatakan: “Apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan istilah “rencana pelajaran” itu? Dalam bahasa asing dipakai kata ‘Curriculum’, arti aslinya ialah lapangan perlombaan. Kita tahu bahwa perlombaan dimulai dari satu tempat yang tertentu dan berakhir pula pada tempat yang tertentu”. Homrighausen dan Enklaar menyamakan rencana pelajaran dengan curriculum (rencana pelajaran atau curriculum). Bahkan dalam kursus mengemudikan oto (mobil), pasti ada rencana atau curriculumnya. Begitu pulalah semestinya dalam Pendidikan Agama Kristen.
Secara tegas kedua ahli ini mengemukakan bahwa rencana pelajaran atau Curriculum dapat dipahami dalam arti sempit (mata pelajaran) dan curriculum dalam arti luas, yaitu segala pengaruh, persekutuan dan aktivitas yang lain, yang berhubungan dengan pelajaran bersama itu (Homrighausen dan Enklaar, 2005:87-88)

Hal menarik dalam pernyataan Homrighausen dan Enklaar adalah: Isi seluruh Alkitab harus diajarkan menurut rencana atau curriculum yang dipertanggungjawabkan atau bagian ini dipahami dalam istilah Howard P. Colson dan Raymond M. Rigdon , yaitu Alkitab dalam kurikulum (kurikulum/perencanaan dalam Pendidikan Agama Kristen (Homrighausen dan Enklaar, 2005 : 87). Selanjutnya menurut penulis (Yonas Muanley) rencana pendidikan atau curriculum pendidikan itu ada dalam Alkitab (Kurikulum dalam Alkitab). Hipotesis ini lahir dari berpikir dan perenungan panjang melalui riset terhadap makna kata curriculum. Dengan demikian saya tiba pada hipotesa “Kurikulum dalam Alkitab”, dan ternyata kebenaran konsep ini ada dalam pandangan seperti Homrighausen dan Enklaar, yaitu Isi Alkitab harus diajarkan menurut rencana atau curriculum yang dapat dipertanggungjawabkan. Inti yang searah dengan konsep Kurikulum dalam Alkitab adalah penegasan kedua ahli di atas tentang perencanaan atau curriculum yang harus diterapkan dalam Pendidikan Agama Kristen. Sedangkan Colson dan Rigdon akan membawa penulis (Yonas Muanley) pada konsep esensi rencana atau curriculum dalam Alkitab, yaitu bahwa perencanaan itu ada dalam Alkitab karena Alkitab itu berotoritas. Otoritas Alkitab disebabkan karena pengilhaman atau pewahyuan oleh Allah yang berpribadi kepada manusia yang berpribadi sehingga selalu bersinggungan dengan perencanaan. Allah itu berpribadi maka Ia memiliki perencanaan, Ia menciptakan manuisa sebagai mahluk yang segambar maka mahluk yang segambar dan serupa dengan Allah itu mempunyai perencanaan dalam berbagai kehidupan, khususnya perencanaan dalam pendidikan. Tentang pendidikan, Alkitab memuat data yang cukup untuk sebuah studi kurikulum pendidikan (perencanaan pendidikan).

Dr. Eli Tanya
Kata kurikulum aslinya berarti lapangan perlombaan yang harus dilalui oleh murid dan guru mencapai tujuan tertentu. Lazimnya kurikulum dipahami orang sebagai bahan-bahan tercetak (buku, majalah) berisikan pelajaran, petunjuk-petunjuk, gambar-gambar, soal-soal, dsb. Tetapi kurikulum sebenarnya mempunyai arti yang luas, yaitu sepanjang hidup pelajar, meringkas segala pengalaman dan pengaruh-pengaruh yang terdapat di sekeliling murid. International Council of Religious Education mendefinisikan kurikulum sbb: Kurikulum PAK adalah segala pengalaman si pelajar di bawah bimbingan”. Semua pengalaman murid dalam rumah tangga, gereja dan sekolah digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan gereja.



6. Komponen kurikulum PAK


a.  Tujuan

b. Isi
c. Proses
d. Evaluasi/Penilaian

7. Asas-asas kurikulum PAK

8. Perbedaan Kurikulum PAK dan Pendidikan Umum

Perbedaannya:
a. Rumusan tujuan pelajaran berbeda, dimensi tujuan bersifat vertical dan horisontal
b. Bahan pelajaran bersumber dari Alkitab (Alkitab = Isi PAK)
c. Proses Belajar Mengajar dimulai dengan nyanyian rohani, doa pembukaan dan doa akhir pelajaran.Pendidik tidak menjadi hamba dari media LCD, OHP dan tehnologi lainnya. Pembelajaran tetap dilangsungkan walaupun ada kendala pada media tehnologi
Pendidik dan Peserta didik berserah kepada pimpinan Roh Kudus dalam proses pembelajaran
d. Perubahan tidak hanya 3 ranah (kognitif, afektif dan psikomotorik) tetapi pada psikospritual (kemampuan menunjukkan perubahan hidup/pertobatan dan relasinya dengan Tuhan)
e. Citra guru PAK berdimensi misiologis (orang yang melihat dapat tertarik menjadi Kristen)
Persamaannya:
Dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Pendidikan Umum sama pada;
a. Penggunakan media pembelajaran
b. Penggunaan strategi pembelajaran
c. Struktur organisasi pelajarannya sama yaitu pendahuluan,isi dan penutup.
d. Sama-sama mengarahkan pendidikan pada tujuan pendidikan Nasional
e. Para pendidik dituntut memiliki citra sebagai seorang pendidik baik di sekolah maupun di Masyarakat
f. Memperhatikan kode etik guru Indonesia
g. Isi pelajaran berbeda
h. Mendidik dengan tujuan yang jelas
i. Mengarahkan proses pendidikan pada tujuan
j. Perubahan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik

Bahan di atas diambil :
BAHAN AJAR KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (Kurikulum di dalam Alkitab, Alkitab di dalam Kurikulum, Teori-teori Kurikulum PAK dan Umum)
Demi dan Untuk Pengalaman Belajar Peserta Didik Bagi Tugas Didaktis Guru Agung Yesus Kristus Di Indonesia Oleh: Yonas Muanley, M.Th.

Post a Comment

0 Comments