Rabu, 05 September 2012

Strategi Pembelajaran PAK



STRATEGI PEMBELAJARAN dan KURIKULUM PAK

Seruan Akademis

Materi ini (Strategi Pembelajaran dan Kurikulum di dalam Alkitab) yang ada dalam Blog ini merupakan bahan kuliah Yonas Muanley, M.Th., D.Th. (c) dan jika ada yang memakai bahan ini harap dituliskan sumbernya. Dan bila ada rekan-rekan dosen yang telah memakai tetapi tidak mencantumkan sumber maka harap tidak dijadikan sebagai karyanya, seolah-olah bahan yang disajikan adalah karyanya. Saya berharap tidak demikian. Bila sudah ada yang memakai bahan ini maka saya harap kejujuran akademis untuk tidak menyampaikan kepada mahasiswa bahwa bahan yang disampaikan merupakan karyanya. Saya menyadari bahwa bahwa bahan ini sudah dipakai di beberapa sekolah Teologi (STT), maka saya harus menegaskan bahwa BAHAN DI BLOG INI ADALAH KARYA: YONAS MUANLEY yang diambil dari berbagai sumber. Bila ditemukan maka tolong disampaikan ke saya dengan email: ymuanley@gmail.com. Trims

Selanjutnya marilah kita mulai dengan bagian pertama dari Mata Kuliah Strategi Pembelajaran dan Kurikulum PAK yaitu penjelasan tentang pengertian strategi.

PENGERTIAN STRATEGI[1]

Dalam dunia Militer:
       Kata strategi mulanya digunakan dalam dunia militer. Kata strategi berasal dari
       bahasa Yunani strategos yang berarti jendral atau panglima.
      Strategi dalam pengertian kemiliteran diartikan: cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk  mencapai tujuan perang, yaitu kemenangan.
Dalam dunia Pendidikan:
    Strartegi ialah the art of bringing forces to the battle field in favourable position (strategi adalah suatu seni, yaitu seni membawa pasukan ke dalam medan tempur dalam posisi yang paling menguntungkan (= definisi dlm Ensiklopedia Pendidikan)
       Strategi adalah seni dan ilmu untuk membawakan pengajaran di kelas sedemikian rupa sehingga tujuan[2] yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien.
   Strategi pengajaran adalah pola dan urutan umum perbuatan guru-murid dalam mewujudkan kegiatan belajar-mengajar (Definisi T. Raka Joni). Perbuatan  atau kegiatan guru-murid di dalam proses belajar-mengajar itu terdiri atas bermacam-macam bentuk. Keseluruhan bentuk itulah yang dimaksud dengan pola dan urutan umum perbuatan guru-murid (Bermacam-macam bentuk belajar-mengajar = Pola umum perbuatan/kegiatan guru-murid dalam proses belajar-mengajar). Seorang guru yang merencanakan  pengajarannya, lebih dahulu harus memikirkan strateginya. Setelah menentukan suatu alternatif barulah ia menyusun rencana pengajaran atau desain instruksional.
  Starategi adalah a plan method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal (Definisi J.R. David).  Strategi belajar-mengajar meliputi rencana, metode dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu). Sering metode pengajaran dikacaukan dengan strategi belajar-mengajar. Untuk melaksanakan suatu strategi tertentu diperlukan seperangkat metode pengajaran. Suatu program pengajaran yang diselenggarakan oleh guru dalam satu kali pertemuan atau tatap muka, biasa dilaksanakan dengan berbagai metode seperti: ceramah, diskusi kelompok, Tanya jawab, simulasi dll. Keseluruhan metode itu termasuk media pendidikan yang digunakan untuk menggambarkan startegi belajar-mengajar. Strategi adalah a plan of operation achieving something ‘rencana kegiatan untuk mencapai sesuatu’. Sedangkan metode pengajaran ialah a way in achieving something ‘cara untuk mencapai sesuatu’.
    Strategi pembelajaran adalah cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu yang meliputi: sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberi pengalaman belajar kepada nara didik (Gerlach and Ely)
     Strategi pembelajaran adalah perencanaan penggunaan prosedur kegitan pembelajaran dan materi atau paket pengajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Jadi dalam definisi ini, strategi pembelajaran meliputi/mencakup semua komponen materi dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran (Dick dan Carey)
      Strategi pembelajaran sangat terkait dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
   Strategi adalah daya upaya guru (termasuk kemampuan mengatur secara umum komponen-komponen pembelajaran sehingga terjalin keterkaitan fungsi antar komponen pembelajaran) dalam menciptakan suatu system lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses mengajar, agar tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dan berhasil guna.(H.Amhmad Sabri)
    Strategi adalah pilihan pola kegiatan belajar mengajar yang diambil untuk mencapai tujuan secara efektif (H.Ahmad Sabri)
    Strategi mengajar adalah tindakan guru dalam melaksanakan rencana mengajar, artinya usaha guru dalam menggunakan beberapa variable pengajaran (tujuan, bahan, metode, dan alat serta evaluasi) agar dapat mempengaruhi siswa ,encapai tujuan yang telah ditetapkan (Nana Sudjana)
     Strategi mengajar adalah tindakan nyata dari guru atau merupakan praktek guru melaksanakan pengajaran melalui cara tertentu yang dinilai lebih efektif dan efisien atau Strategi mengajar adalah politik atau taktik yang digunakan guru dalam proses pembelajaran di kelas. Politik atau taktik tersebut harus mencerminkan langkah-langkah yang sistemik, artinya setiap komponen pembelajaran  harus berkaitan satu sama lain, langkah-langkah yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran tersusun secara rapi, logis sehingga tujuan pembelajaran yang ditetapkan tercapai (H.Ahmad Sabri)
     Strategi merupakan prosedur atau teknik dan penggunaan metode yang dipilih untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut secara efektif dan efisien. Tehnik adalah cara atau alat yang dipilih oleh guru dalam mengarahkan kegiatan pembelajaran nara didik ke arah tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Metode adalah cara, yang dalam fungsinya merupakan alat yang dipilih untuk mencapai tujuan pembelajaran baik oleh guru sebagai metode mengajar maupun oleh nara didik sebagai metode belajar. Dalam konteks strategi pembelajaran, metode bersifat prosedural, sedangkan tehnik bersifat implementatif. Keduanya merupakan bagian dari strategi pembelajaran. Jadi strategi pembelajaran terdiri dari teknik/prosedur dan metode yang akan membawa nara didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan khusus pembelajaran secara efektif dan efisien  atau strategi dalam konteks pembelajaran diartikan sebagai teknik/prosedur kegiatan guru dan nara didik dalam proses kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan khusus pembelajaran yang telah dirumuskan.(Joni Bokko).

     Jadi Strategi belajar-mengajar adalah rencana dan cara-cara membawakan pengajaran agar segala prinsip dasar dapat terlaksana dan segala tujuan pengajaran dapat dicapai secara efektif. Cara-cara mebawakan pengajaran itu merupakan pola dan urutan umum perbuatan guru-murid dalam perwujudan kegiatan kegiatan belajar-mengajar. Pola dan urutan umum perbuatan guru murid itu merupakan suatu kerangka umum kegiatan belajar-mengajar yang tersususun dalam  suatu rangkaian bertahap menuju tujuan yang telah ditetapkan. Strategi belajar-mengajar merupakan rancangan dasar bagi seorang guru tentang cara ia membawakan pengajarannya di kelas secara bertanggung jawab.

Perbedaan Strategi Pembelajaran dengan metode pembelajaran dan desain instruksional

Perbedaan strategi pembelajaran dengan metode pembelajaran

Strategi pembelajaran tidak sama dengan metode pembelajaran. Strategi pembelajaran (belajar-mengajar) merupakan rencana kegiatan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode pengajaran adalah alat untuk mengoperasionalkan/melaksanakan/mewujudkan apa yang direncanakan dalam strategi. Untuk melaksanakan suatu strategi pembelajaran digunakan  seperangkat metode pengajaran tertentu. Dalam pengertian ini maka metode pengajaran menjadi salah satu unsur dalam strategi belajar-mengajar. Unsur lain seperti sumber belajar, kemampuan yang dimiliki guru dan siswa, media pendidikan, materi pengajaran, organisasi kelas, waktu yang tersedia, dan kondisi kelas dan lingkungannya, juga merupakan unsur-unsur yang mendukung strategi belajar-mengajar.

Perbedaan strategi pembelajaran dengan desain pembelajaran

Strategi instruksional tidak sama dengan desain instruksional. Desain isntruksional merupakan blue print suatu pengajaran. Blue print itu baru dapat disusun setelah ditetapkan model dan bentuk pengajaran yang dikehendaki. Dengan kata lain setelah diambil keputusan tentang strategi yang dipergunakannya barulah dibuat desain instruksional.

Strategi meliputi empat masalah:
1.          Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi serta kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian peserta didik sesuai tujuan yang diharapkan.
2.          Memilih system pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat
3.          Memilih dan menetapkan prosedur, ,metode, dan teknik pembelajaran yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan dalam kegiatan pembelajaran
4.          Menetapkan norma dan batal minimal keberhasilan atau criteria dan standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melaksanakan evaluasi hasil kegiatan pembelajaran
Tiga tahap yang perlu diperhatikan guru dalam melaksanakan strategi mengajar:
1.        Tahap Mengajar: tahap pra instruksional, Tahap Instruksional, Tahap penilaian dan tindak lanjut – 3 tahap harus ditempuh pada setiap saat melaksanakan pengajaran
2.        Penggunaan model atau pendekatan mengajar: Pendekatan Ekspositori/model informasi, pendekatan inquiry/Discovery, pendekatan interaksi social, pendekatan tingkah laku (Behavioral models)
3.        Penggunaan prinsip mengajar

§  Jenis-jenis strategi pembelajaran

Berdasarkan komponen yang mendapat tekanan dalam proses pengajaran maka strategi pembelajaran dibagi menjadi tiga macam strategi pembelajaran:

1.      Startegi belajar-mengajar yang berpusat pada guru: Guru aktif, siswa pasif (hanya mendengar)
2.      Strategi belajar-mengajar yang berpusat pada peserta didik (Murid aktif, guru menjadi motivator, fasilitator dll)
3.      Strategi belajar-mengajar yang berpusat pada materi pengajaran (orientasi guru adalah berusaha menyelesaikan materi)

Berdasarkan kegiatan pengelolaan pesan atau materi maka strategi belajar-mengajar dibagi dalam dua jenis:

1.      Strategi belajar-mengajar ekspositori (guru mengulas tuntas materi, siswa pasif/hanya mendengar atau belajar secara ekspositirik= hanya berdasarkan ulasan materi pelajaran yang telah dibuat guru secara tuntas sebelum disajikan)
2.      Strategi belajar-mengajar heuristik atau kuriorstik

Berdasarkan cara pengolahan atau memproses pesan atau materi pelajaran, maka strategi belajar mengajar dibagi dalam dua jenis:

1.      Strategi belajar-mengajar deduksi (Umum ke khusus)
2.      Strategi belajar-mengajar induksi (Khusus ke umum)

Berdasarkan cara memproses penemuan maka strategi belajar-mengajar dibedakan atas:

1.      Strategi ekspositori
2.      Strategi discovery

Komponen strategi belajar-mengajar

1.      Tujuan pengajaran: Acuan yang dipertimbangkan untuk memilih strategi belajar-mengajar. Misalnya tujuan pengajaran yang berorientasi pada pembentukan sikap tidak akan tercapai jika strategi belajar mengajar berorientasi kepada dimensi kognitif.
2.      Guru: masing-masing mempunyai perbedaan pengetahuan, kemampuan menyajikan pelajaran, gaya mengajar, pandangan hidup, wawasan. Perbedaan ini mempengaruhi pemilihan strategi belajar-mengajar yang dipakai dalam program pengajaran.
3.      Peserta didik: mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Misalnya, lingkungan social, lingkungan budaya, gaya belajar, keadaan ekonomi, dan tingkat kecerdasan. Aspek ini perlu dipertimbangkan dalam pemilihan strategi belajar yang tepat.
4.      Materi pelajaran: Dibedakan menjadi: 1) materi formal, yaitu materi pelajaran yang terdapat dalam buku teks resmi (buku paket)  dan 2) materi informal, yaitu bahan pelajaran yang bersumber dari lingkungan sekolah yang bersangkutan. Bahan ini dibutuhkan agar pelejaran lebih relevan dan actual. Aspek ini juga perlu dipertimbangkan dalam strategi belajar-mengajar.
5.      Metode pengajaran: Ada macam-macam metode pengajaran yang perlu dipertibangkan dalam strategi belajar-mengajar.
6.      Media pengajaran: Banyak media, dari sederhana/lokal sampai yang canggih yang dapat dipakai dalam proses pembelajaran. Guru harus memilih media yang tepat dan efektif. Jadi media juga berpengaruh terhadap pemilihan strategi belajar-mengajar.
7.      Faktor administrasi dan finansial: Jadwal pelajaran, kondisi gedung dan ruang belajar yang juga merupakan hal-hal yang berhubungan pemilihan strategi belajar-mengajar

STRATEGI PEMBELAJARAN:

Definisi yang dipilihl:
Strategi adalah

POLA UMUM PERBUATAN GURU- MURID DALAM
PROSES PEMBELAJARAN (Belajar-Mengajar)

Ada bermacam-macam pola umum perbuatan guru-murid (pola mengajar itu sudah ada) dalam pembelajaran, diantaranya:

1.      Strategi Pembelajaran Kognitif (ketrampilan/kemampuan kognitif)

Definisi strategi kognitif adalah kemampuan internal seseorang untuk berfikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Kemampuan strategi kognitif menyebabkan proses berpikir unik di dalam memnganalisa, memecahkan masalah dan mengambil keputusan. Mereka yang memiliki kemampuan kognisi tinggi mampu dengan mudah memecahkan masalah, akan tetapi mudah juga membalik fakta, konsep dan prinsip atas kepentingan yang diperjuangkan. Sebaliknya mereka yang memiliki kognisi rendah tidak mampu membuat terobosan hanya sebagai “pak turut saja”
Rencana pembelajaran yang bertujuan pada pencapaian perubahan kognitif, yaitu guru mentransfers pengetahuan kepada siswa sehingga pengetahuan tersebut menetap dalam diri siswa atau siswa mampu memindahkan pengetahuan ke dalam dirinya dan merupakan transfer of knowledge. Kemampuan kognisi dapat dibagi menjadi: kognisi tertinggi, kognisi ini dapat dipelajari oleh siswa-siswa dengan guru, kemampuan ini lebih banyak mengajak siswa berpikir dengan memberi bahan atau materi pelajaran yang mana siswa dapat memecahkannya, baik di dalam kelas maupun di dalam kehidupan sehari-hari di luar sekolah. Guru yang berhasil memberi materi kepada siswa adalah guru yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswanya.  Pemberian materi pelajaran di dalam kelas sebatas memberi informasi, akan tetapi merupakan cikal bakal untuk siswa mengembangkan diri, dan menindaklanjuti apa-apa yang telah mereka dapat dari informasi awal di dalam kelas.
Mendapatkan pengalaman di luar kelas merupakan bagian strategi kognisi di mana seorang dapat belajar dari pengalaman dirinya dan pengalaman orang lain. Pengalaman yang diperoleh siswa di luar kelas akan tercatat dalam benaknya dalam bentuk gagasan-gagasan dan tanggapan-tanggapan.
Mengajar, dalam konteks ini adalah membantu seseorang berfikir secara benar dengan membiarkan berfikir sendiri.

Analisis, sistesis dan evaluasi = kemampuan kognisi tertinggi. Strategi kognisi ini dapat dipelajari oleh siswa-siswa dengan guru, kemampuan ini lebih banyak mengajak siswa berfikir dengan memberi bahan atau materi pelajaran yang mana siswa dapat memecahkannya, baik di dalam kelas maupun di dalam kehidupan sehari-hari di luar sekolah. Dalam hubungan ini Guru harus mampu memberi materi untuk pengembangan kemampuan berpikir siswa. Jadi guru yang berhasil memberi materi terhadap siswa adalah guru yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswanya. Pemberian materi pelajaran di kelas sebatas memberi informasi, akan tetapi merupakan cikal bakal siswa untuk mengembangkan diri, dan menindaklanjuti apa yang mereka dapat dari informasi awal di kelas. Kemampuan kognisi itu harus harus dikembangkan melalui belajar.
Mendapatkan pengalaman di luar kelas merupakan bagian strategi kognitif dimana seorang dapat belajar dari pengalaman dirinya dan pengalaman orang lain.

Strategi kognitif ini lahir dari paradigma teori konstruktivisme dan meta cognition yang mendefinisikan mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke kepada siswa melainkan mengajar adalah suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya atau mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi.
Menurut pendekatan ini Guru dituntut memiliki kemampuan dan kerelaan memaklumi alam pikiran dan perasan siswa, atau menerima siswa seadanya. Tetapi dalam pergaulan dengan siswa guru harus menunjukkan sikap kritis, karena siswa tidak dapat dibiarkan dalam keadaannya sekarang. Banyak kemampuan yang belum dimiliki siswa dan mereka harus dibantu untuk memperolehnya, terurtama dalam sikap dan bertindak sehingga mereka dapat mampu berfikir dan menggunakan pikiran lebih luas serta mengembangkan diri.

Berpikir yang baik itu lebih penting dari pada mempunyai jawaban yang benar atas suatu persoalan yang sedang dipelajari. Seorang yang mempunyai cara berfikir yang baik, dalam arti bahwa cara berpikirnya dapat digunakan untuk menghadapi suatu fenomena baru, akan dapat menemukan pemecahan dalam menghadapi persoalan yang lain. Sementara itu, seorang siswa yang sekedar menemukan jawaban benar belum pasti dapat memecahkan persoalan yang baru karena mungkin ia tidak mengerti bagaimana menemukan jawaban itu. Dalam konteks ini, mengajar adalah membantu seseorang berfikir secara benar dengan membiarkan berfikir sendiri.
Strategi kognitif adalah kemampuan internal seseorang untuk berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.
Objek strategi kognitif adalah proses berpikir siswa sendiri.
Ketrampilan strategi kognitif sampai pada taraf tertentu dapat dikembangkan menjadi lebih baik dengan pendidikan formal, dan siswa belajar dan berkembang dengan sendiri, berfikir menjadi mandiri.
Jadi strategi kognitif diperlukan untuk perkembnagan kognisi seseorang.
Perkembangan kognisi: kemampuan rendah (turut saja) kemampuan kognisi sedang (tidak sekedar turut saja, ada sikap kritis) dan kemampuan kognisi tinggi dan sangat tinggi (mampu menganilisis hal-hal yang abstrak menjadi konkrit, mampu memecahkan masalah, dst)
           
Empat jenis kemampuan kognisi:

   kemampuan memecahkan masalah (Problem Solving): kemampuan/ketrampilan seseorang dalam menggunakan proses berpikirnya untuk memecahkan masalah melalui pengumpulan fakta-fakta, analisis informasi, menyusun berbagai alternatif pemecahan, dan memilih pemecahan masalah yang paling efektif.
   Kemampuan pengambilan keputusan (Decision Making): kemampuan/ketrampilan individu dalam menggunakan pberpikirnya untuk memilih suatu keputusan yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada melalui pengumpulan informasi, perbandingan kebaikan dan kekurangan dari setiap alternatif, analisis informasi, dan pengambilan keputusan yang terbaik berdasarkan alasan-alasan yang rasional.
    Kemampuan berpikir kritis (Critical thinking): kemampuan seseorang dalam menggunakan proses berpikirnya untuk menganalisa argumen dan memberikan interpretasi berdasarkan persepsi yang benar dan rasional, analisis asumsi dan bias dari argumen dan interpretasi logis
     Kemampuan berpikir kreatif (Kreative thingking): kemampuan seseorang dalam menggunakan proses berpikirnya untuk menghasilkan gagasan yang baru, konstruktif berdasarkan konsep-konsep dan prisnsip-prinsip yang rasioanl maupun persepsi, dan intuisi individu
Kemampuan atau ketrampilan kognitif di atas saling terkait satu dengan lainnya, sukar membedakannya karena kemampuan-kemampuan tersebut di atas terintegrasi. Ketika menggunakan strategi kognisi untuk menyelesaikan masalah maka ke-4 kemampuan di atas dapat digunakan secara bersamaan.
Penggunaan strategi kognitif dalam pembelajaran bertujuan untuk mencapai perubahan di ranah kognitif atau kemampuan kognitif, yang dibagi menjadi: kemampuan kognisi rendah, kemampuan kognisi sedang dan kemampuan kognisi tinggi dan sangat tinggi. Dengan kata lain siswa ditolong mengalami perkembangan kemampuan berpikir dari tingkat kemampuan rendah ke tinggi sesuai dengan klasifikasi pendidikan formal.

Metode yang cocok untuk Strategi Kognitif:
Ø   Metode Ceramah berfariasi
Ø  Metode Diskusi
Ø  Metode kreatif (ET: 39,
Ø  Media Pembelajaran
Ø  Metode Simposium (ET:41
Ø  Motedo Koloqium
Ø  Metode Lokakarya ET:43
Ø  Metode Tanya jawab
Ø  Metode studi mandiri
Ø  Metode pemecahan masalah
Ø  Metode studi kasus: sudah ada buku khusus yang membahasnya
Ø   
Ø  Metode insiden
Ø  Metode seminar
Penggunaan metode disesuaikan dengan rumusan TPK yang hendak dicapai

Strategi Kognitif dan aspek empiris
Siswa mendengar kuliah, diberi kesempatan tidak ada yang bertanya, jawabnya pas tapi kelihatan diwajahnya menunjukkan tidak mengerti. Metode apa yang dipakai?

2.      Startegi Pembelajaran Afektif/Psikomotorik

Pengajaran afektif berhubungan dengan nilai (value): Nilai itu berhubungan dengan apa yang dianggap baik dan tidak baik, indah dan tidak indah, adil dan tidak adil, efisien dan tidak efisien, dan sebagainya. Nilai itu diketahui dari penampilannya.
Wilayah 
·         Menerima
·         Menanggapi
·         Penilaian
·         Mengorganisasi
·         Mempribadikan nilai
Dengan kata lain, strategi pembelajaran afektif dan psikomotorik adalah proses pembinaan nilai dalam kawasan afektif dan psikomotorik melalui lima tahapan:
1.      Menerima/receiving. Unsur-unsurnya: kesadaran; kemauan menerima; pemusatan perhatian
2.      Menanggapi. Unsur-unsurnya: kesediaan menanggapi; kemauan menanggapi; kepuasan dalam menanggapi
3.      Penilaian. Unsur-unsurnya: penerimaan suatu nilai; pemilihan suatu nilai; keterikatan
4.      Mengorganisasi. Unsur-unsurnya: konsep kita terhadap nilai; pola mengorganisasi ke dalam system nilai
5.      Mempribadikan nilai. Unsur-unsurnya: menggeneralisasikan; mempribadikan
Minat atau penghargaan terhadap suatu nilai tertentu memerlukan tahap-tahap domain afektif:
1.      Minat: mulai dari unsure kesadaran – pemilihan suatu nilai
2.      Penghargaan: mulai dari unsure menerima –pemilihan suatu nilai
3.      Sikap: mulai dari unsure kepuasan dalam menanggapi –pola pengorganisasian dalam system nilai
4.      Penyesuaian diri: mulai dari unsure kepuasan dalam menanggapi – mempribadikan

Jadi strategi pembelajaran Afektif dan psikomorik adalah pola perbuatan guru-murid untuk mencapai tujuan instruksional yang bermuara kepada perubahan afektif dan psikomotorik.

Misalnya mata pelajaran Agama, Pancasila, dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia banyak memuat tujuan pada domain afektif dan psikomotorik. Menghargai pahlawanan Nasional, menghargai keyakinan orang lain, beriman dan prilaku iman/taqwa kepada Tuhan, dapat berdoa, kemauan membaca kitab suci, kemauan menyanyi/memuji Tuhan, mampu membicarakan Injil kepada orang lain dst adalah contoh-contoh tujuan instruksional yang bermuara pada afektif dan psikomotorik.
Tujuan seperti ini dapat diperoleh melalui penampilan guru di dalam dan di luar kelas, situasi yang diciptkan oleh guru dalam mengelola pelajaran, dan penampilan pribadi guru yang bersangkutan. Sikap disiplin dari seorang guru akan menular kepada siswa.
Memakai stimulus (bahan yang digunakan oleh guru ketika mengawali pelajarannya di kelas sebelum masuk ke dalam pokok bahasan)
Stimulus hendaknya berkaitan dengan ranah afektif dan psikomotorik. Setelah disampaikan, anak diminta tanggapan (lih. W.Gulo, 158-159)

Metode Pembelajaran yang cocok untuk Strategi Afektif dan Psikomotorik
v   Metode Ceramah Bervariasi
v  Metode Sosiodrama
v   Metode Simulasi
v   Metode Praktikum
v   Metode Demonstrasi dan Eksperimen
v   Metode Penampilan
v   Metode latihan bersama teman
v   Metode Insiden
v  dll yang cocok untuk afektif fan psikomotorik
MACAM-MACAM METODE PEMBELAJARAN

Metode-metode Instruksional
                        Sumber Martinis Yamin (64-78)
1.      Metode Ceramah
1.1              Metode Ceramah
1.2              Metode Ceramah Bervariasi
2.      Metode Demonstrasi
3.      Metode Eksperimen
4.      Metode Tanya Jawab
5.      Metode Penampilan
6.      Metode Diskusi
7.      Metode Studi Mandiri
8.      Metode Pembelajaran terprogram
9.      Metode latihan bersama teman
10.  Metode Simulasi
11.  Metode Pemecahan Masalah
12.  Metode Studi Kasus
13.  Metode Insiden
14.  Metode Praktikum
15.  Metode Proyek
16.  Metode Bermain peran
17.  Metode Seminar
18.  Metode Simposium
19.  Metode Tutorial
20.  Metode Deduktif
21.  Metode Induktif
Menurut Eli Tanya:
1.      Metode otoriter (Eli Tanya)
ü  Metode Kreatif
ü  Metode Bercerita
ü   Metode mempertunjukkan
ü   Metode bertukar pikiran: Diskusi, Panel, Simposium, Qoloqium
ü  Metode Proyek
ü  Metode Dramatisasi
ü  Metode lokakarya
ü  Metode Retreat
ü  Metode Meditasi/Kontemplasi
ü  Metode Ibadah:
Ibadah Minggu, ibadah RT, ibadah Departemen/komisi/bagian, ibadah wilayan, ibadah sector, perkumpulan doa, KKR/KPI
ü  Metode Penelaahan Alkitab
Metode Ekspository (menerangkan/penerangan)
Metode Discavery (bersifat gagasan)
Metode Inqury (bersifat pelacakan)
ü  Metode Discovery
ü  Metode Inquiry

Strategi berikut ini dapat dipelajari oleh mahasiswa:

3.      Strategi Merancang Tujuan Instruksional
4.      Strategi Memilih Metode Instruksional
5.      Strategi Memotivasi siswa belajar
6.      Strategi membelajarkan siswa
7.      Strategi penerapan standar kompetensi
8.      Startegi pengujian berbasisi kompetensi
9.      Strategi membelajarkan siswa Aktif (CBSA)
10.  Strategi Inquiri
11.  Strategi penyelesaian masalah (Problem Solving)
12.  Model pembelajaran interaksi social
13.  Model Pembelajaran Efektif
14.  Retorika



[1] Yonas Muanley, Kurikulum di dalam Alkitab dan Alkitab di dalam Kurikulum (http://yonas-muanley.blogspot.com)
[2] Tujuan Pengajaran itu sendiri ditetapkan dalam perencanaan pengajaran atau kurikulum

0 komentar:

Poskan Komentar

POEM KURIKULUM

About This Blog

Kurikulum dalam Alkitab

Kata kurikulum memang tidak ada dalam ALkitab tetapi hakekat kurikulum ada dalam Alkitab.

Apakah Anda setuju kurikulum dalam Alkitab?

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "